PRINGSEWU,sinarberitanews.com-terkait temuan pada proyek rehap ruang kelas dengan judul "Bngkar Dugaan Permainan Rehab Ringan SMPN 1 Pagelaran Diduga Tak Sesuai Spek, Reng Baja Ringan Polos Dan Aspek K3."
Epen Salaku pengawas ternyata berprofesi sebagai wartawan. Membenarkan bahwa adapupun Dengan kanal baja itu mungkin goyang karna ada angin
"Mungkin betul goyang karna ada angin tapi saya yakin apa yang di pasang benar"
terkayit pembesian pemasangan profil baja ringan (kanal C) berukuran 75 mm sebagai rangka atap itu sudah sesuai, kalo APD saya akui memang gak ada dan tak di pakai sambil menunjukan poto juknis pemasangan baja.
iming-iming akan memberi sejumlah uang namun tetap ditolak secara normatif, santun dan tegas oleh wartawan media ini.
Adapun perihal pemberitaan temuan tersebut di peroleh jurnalis media ini bersama tim kerja, saat meninjau lokasi proyek sabtu (8/11/25)
Diberitakan sebelumnya, Bongkar Dugaan Permainan Rehab Ringan SMPN 1 Pagelaran Diduga Tak Sesuai Spek, Reng Baja Ringan Polos Dan Aspek K3.
pekerjaan proyek rahab ringan kelas Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 (Satu) Pagelaran Kecamatan pagelaran Kabupaten Pringsewu, lampung. kini menjadi sorotan. Proyek yang seharusnya membawa perubahan positif bagi dunia pendidikan justru diselimuti dugaan penggunaan material yang tidak spesifikasi teknis dan pengabaian aspek K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di lapangan.
Saat tim media melakukan kontrol sosial di lokasi, terlihat jelas bahwa reng baja ringan yang digunakan tidak bermerek alias polos. Selain itu, kondisi reng tampak sangat tipis sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap kekuatan dan ketahanannya. Bahkan, sebagian reng yang sudah terpasang terlihat bergoyang ketika tertiup angin, seolah-olah tidak kokoh menopang atap bangunan.
Menurut sumber yang namanya kami rahasiakan, mengaku heran saat melihat material baja ringan yang tampak tidak sesuai, bahkan memperlihatkan baja polos dan tipis Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa material yang digunakan bukan Standar Nasional Indonesia (SNI)
adanya temuan ini, sumber berharap pihak terkait, terutama instansi pengawas dan dinas pendidikan, segera turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengecekan lebih detail.
Menurut Sumber, bila memang terbukti tidak sesuai spesifikasi, pihak pelaksana harus segera mengganti material agar kualitas bangunan sesuai standar dan tidak membahayakan keselamatan di kemudian hari.
Selain itu, pelaksanaan proyek juga dinilai mengabaikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Para pekerja disebut tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) yang memadai, seperti helm proyek, sepatu safety, dan tali pengaman, yang seharusnya menjadi standar dalam setiap pekerjaan konstruksi pemerintah.
Saat di konfirmasi beberapa pekerja, mengatakan pegawas gak dateng bahkan lebih jauh saat ditanya ukuran besi yang di pasang ukuran 8mili untuk cincin, 10mili dan 12mili untuk batangan, salah satu pemasang baja juga menjelaskan bahwa baja ringan yang di gunakan tipe 2 rendah alias tidak sesuai aspek.
Sementara pihak pengawas belum bisa di konfirmasi, hingga berita ini di terbitkan, pihak pemborong maupun dinas pendidikan belum dapat di konfirmasi untuk memberikan keterangan resmi terkayit rehab kelas tersebut. (Merliyansyah)
