Viral di Facebook, Video Talud Dikaitkan dengan Pembangunan Jalan Banyumas–Way Kunyir Pringsewu, Kualitas Adukan Jadi Sorotan -->

Viral di Facebook, Video Talud Dikaitkan dengan Pembangunan Jalan Banyumas–Way Kunyir Pringsewu, Kualitas Adukan Jadi Sorotan

05/02/2026, Februari 05, 2026

PRINGSEWU,sinarberitanews.com— Video yang memperlihatkan kondisi talud diduga rapuh di wilayah Kecamatan Pagelaran Utara, Kabupaten Pringsewu, beredar luas di Facebook dan memicu perhatian publik. Rekaman tersebut menampilkan bagian talud di sisi badan jalan, di mana pasangan batu terlihat mudah terlepas dari adukan semen saat disentuh.


Sejumlah warganet mengaitkan lokasi dalam video dengan pekerjaan infrastruktur pada ruas Jalan Banyumas–Way Kunyir, jalur penghubung antarwilayah yang memiliki peran penting bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan masyarakat. Ruas jalan ini diketahui tengah masuk dalam program peningkatan infrastruktur dengan dukungan pendanaan pemerintah pusat.



Dalam video yang viral, struktur pasangan batu tampak belum merekat kuat. Kondisi visual itu memunculkan dugaan adanya persoalan pada mutu campuran material, khususnya komposisi semen dalam adukan. Secara teknis, konstruksi talud pasangan batu sangat bergantung pada kualitas adukan semen, di mana campuran semen, pasir, dan air harus sesuai spesifikasi agar menghasilkan daya rekat optimal dan kekuatan tekan yang memadai.



Adukan yang kekurangan semen atau tidak tercampur merata berisiko menimbulkan rongga, retak dini, serta lemahnya ikatan antar batu. Dampaknya, batu lebih mudah terlepas dan struktur tidak mampu menahan tekanan tanah maupun aliran air dalam jangka panjang. Selain itu, proses pemasangan batu, kepadatan susunan, dan perawatan pascapekerjaan juga memengaruhi kekuatan akhir talud.


Talud berfungsi sebagai penahan tanah sekaligus pelindung badan jalan. Jika kualitasnya tidak sesuai standar teknis, potensi dampak yang dapat muncul antara lain pergerakan tanah di sisi jalan, gangguan sistem drainase, hingga retak atau amblas pada perkerasan jalan. Kondisi tersebut dapat memperpendek umur layanan jalan serta meningkatkan kebutuhan perbaikan, terlebih bila talud tersebut menjadi bagian dari paket pekerjaan peningkatan jalan.


Pembangunan ruas Jalan Banyumas–Way Kunyir sendiri diketahui didanai melalui APBN Tahun Anggaran 2025–2026 dengan nilai sekitar Rp48,83 miliar, mencakup peningkatan perkerasan, pelebaran badan jalan, penguatan struktur, serta penataan drainase. Keberadaan talud menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga kestabilan konstruksi jalan di lapangan.


Berdasarkan penelusuran awak media, perekam sekaligus narasumber dalam video viral tersebut berinisial SBH. Ia menyampaikan bahwa kondisi talud yang menurutnya baru dikerjakan sudah menunjukkan tanda kerapuhan.


 “Talud baru dibuat tiga hari, sudah sangat rapuh, diduga kurang semen dalam pengadukannya. Tolong Pak Bupati ditinjau,” ujarnya dalam video tersebut.


Unggahan video tersebut juga sontak dibanjiri beragam komentar warganet. Sebagian meminta pekerjaan dibongkar dan diawasi ketat, seperti komentar, “Suruh bongkar aj,” serta “Bongkar aja merugikan kita semua.” Ada pula yang mendorong pengawasan bersama, “Mantap warga Pagelaran Utara harus kompak untuk memantau pembangunan ruas jalan dan drainase agar mengedepankan mutu dan kualitas.”


Sejumlah komentar lain menyoroti kondisi adukan semen. “Dari warnanya itu adukan masih basah, belum kering,” tulis seorang pengguna. Komentar lain menyebut, “Talud jangan sampai kerjaan kayak gitu, karena yang merasakan dampaknya masyarakat setempat.” Di sisi lain, ada pula warganet yang mempertanyakan mutu pekerjaan dan meminta agar proyek dituntaskan dengan baik agar memberi manfaat jangka panjang.


Viralnya video ini mendorong harapan agar dilakukan pengecekan teknis langsung di lapangan. Dalam proyek infrastruktur, pengawasan mutu umumnya mencakup pemeriksaan material, perbandingan campuran adukan, serta hasil pasangan batu sesuai spesifikasi teknis. Evaluasi diperlukan untuk memastikan apakah kondisi yang terlihat dalam video mencerminkan persoalan kualitas konstruksi atau bagian pekerjaan yang belum selesai sepenuhnya, sehingga mutu pembangunan benar-benar terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. (Merliyansyah)

TerPopuler